Siaran Pers: Sumber Kaligede Terancam Rencana Aktifitas Penambangan PT. Indocement Tunggal Prakarsa di Kabupaten Pati

Foto: Area persawahan yang mendapatkan irigasi dari sungai Kali Gede, nampak pada latar belakang adalah perbukitan karst sebagai zona imbuhan air

Masyarakat Speleologi Indonesia (Indonesian Speleological Society) Pengurus Daerah Jawa Tengah bekerja sama dengan Pusat Studi Karst Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta telah melakukan kegiatan “Caving di Bumi Kayen – Tambakromo, Kabupaten Pati” pada tanggal 13 s/d 16 April 2017. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan perkumpulan penggiat speleologi dan pecinta alam dari beberapa daerah di Jawa Tengah seperti Semarang Caver Association (SCA), Forum Caving Surakarta (FCS), Pasdapala SMA N 2 Pati serta melibatkan secara aktif masyarakat sekitar. Rangkaian kegiatan antara lain melakukan survei eksokarst dan endokarst, pelacakan hubungan aliran sungai bawah tanah di Gua Pari dengan Mata air di sekitarnya, sosialisasi PERDES tentang pengelolaan sumber daya air dan karst, serta edukasi kepada masyarakat tentang fungsi kawasan karst.

Pelacakan aliran sungai bawah tanah dengan koridor Gua Pari dilatarbelakangi bahwa kawasan karst tersebut termasuk dalam wilayah Ijin Usaha Pertambangan (IUP) Eksplorasi PT Sahabat Mulia Sakti anak perusahaan PT. Indocement Tunggal Prakarsa tetapi tidak masuk dalam Penetapan Kawasan Bentang Alam Karst Sukolilo (Kepmen ESDM No 2641K/40/MEM/2014 tentang Penetapan KBAK Sukolilo). Pada bulan Agustus tahun 2016 KMPA Giri Bahama Fakultas Geografi UMS melakukan kajian potensi eksokarst dan endokarst bersama masyarakat yang mengidentifikasi keberadaan sungai bawah tanah dengan koridor Gua Pari di Dukuh Krukuk, Desa Brati, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Kajian ini juga mengamati bahwa di lereng bawah dari Gua Pari terdapat 7 mata air yaitu; Sumber Kali Gede, Kali Cilik, Sumber Agung, Sumber Ronggoboyo 1, Sumber Ronggoboyo 2, Beser 1, dan Beser 2 yang sangat memungkinkan untuk dilakukan pelacakan aliran air sungai bawah tanah.

Kegiatan pelacakan dimulai dengan pengukuran debit pada hari Jumat 14 April 2017 di Gua Pari sebesar 102,76 l/dtk dan 3 mata air dugaan (Sumber kali Gede 499,98 l/dtk, Kali Cilik 79,73 l/dtk serta gabungan aliran Sumber Ronggoboyo 1 dan Sumber Agung 347,38 l/dtk). Hari Sabtu tanggal 15 April 2017 dilakukan injeksi larutan pelacak (tracer) di sungai bawah tanah Gua Pari. Selang 26 menit sejak dilakukan injeksi, zat pelacak tersebut keluar di mata air Kali Gede. Hal ini menunjukkan bahwa sungai bawah tanah di Gua Pari memiliki koneksi dengan mata air Kali Gede atau secara umum dapat dikatakan sungai bawah tanah di Gua Pari keluar melalui mata air Kali Gede.

Foto: Injeksi zat pelacak di dalam Gua Pari (kiri) dan kenampakan zat pelacak (tracer) di mata air Kaligede (kanan)

Mengacu pada debit masukan di Gua Pari dan debit keluaran di mata air Kali Gede memiliki nilai yang tidak sebanding, sehingga dapat diasumsikan bahwa mata air Kaligede mendapatkan masukan (suplai) dari aliran lain selain Gua Pari. Enam mata air lain di sekitar Kali Gede berjarak radius maksimal 400 m tidak terhubung dengan Gua Pari, menunjukan bahwa kondisi endokarst di sekitar Gua Pari memiliki banyak sistem aliran sungai bawah tanah yang belum terdeteksi. Lebih jauh mengacu kondisi ini, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui hulu aliran sungai bawah tanah Gua Pari dan sistem-sistem lain di sekitarnya.

Mata air Kali Gede merupakan mata air terbesar diantara 7 mata air yang merupakan salah satu hulu dari anak Sungai Juwana. Peran sungai Kali Gede sangat vital sebagai irigasi pertanian. Hasil wawancara dengan penduduk, lahan sawah yang mendapatkan air dari sungai Kali Gede dapat panen 3 kali setahun, artinya sifat sungai ini adalah parennial atau berair sepanjang tahun. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui daerah lingkupan irigasi dan manfaat dari sungai Kali Gede bagi masyarakat sekitarnya.

Permen ESDM tentang Penetapan KBAK menyebutkan pada Pasal 4 ayat (6) huruf (a) bahwa kriteria bentuk endokarst salah satunya memiliki sungai bawah tanah. Kawasan Gua Pari dan sekitarnya saat ini tidak masuk dalam KBAK Sukolilo, selayaknya diusulkan untuk revisi dan masuk dalam KBAK Sukolilo, dengan memasukan kawasan sekitar Gua Pari ke dalam KBAK. Hasil pelacakan aliran air ini menunjukkan bahwa kawasan ini rentan apabila mengalami kerusakan seperti penambangan batugamping, sehingga keberadan IUP Eksplorasi PT Sahabat Mulia Sakti (PT. Indocement Tunggal Prakarsa) juga perlu ditinjau kembali.

Salam Speleo
Salam Lestari
Narahubung:
Ari Setyawan : 085641217177
http://www.caves.or.id

Sumber: http://caves.or.id/arsip/2925
Dimuat ulang untuk tujuan penyebaran informasi dan pengetahuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s